Selasa, 29 Januari 2013

MAKALAH FTS LIQUID


MAKALAH FTS LIQUID


Oleh :
NURUL UTRUJAH              11.02.1026










AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA MALANG
Januari, 2013

1.1  Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berkembang pesat, begitu juga dengan dunia kefarmasian. Hal ini dapat dilihat dari bentuk sediaannya yang beragam yang telah di buat oleh tenaga farmasis. Diantara sediaan obat tersebut menurut bentuknya yaitu solid (padat), semisolid (setengah padat) dan liquid (cair).
Sediaan liquid lebih banyak digunakan pada bayi, anak-anak dan lanjut usia yang sukar minum obat, seperti tablet dan pil yang memiliki rasa pahit atau tidak enak. Selain itu, sediaan liquid juga lebih mudah diabsorpsi oleh tubuh. Namun, sediaan liquid sangat mudah terkontaminasi oleh mikroba sehingga tumbuh jamur pada sediaan.
Oleh karena itu, pada praktikum FTS ini akan dibuat bagaimana cara pembuatan sediaan liquid seperti larutan, suspense dan emulsi. Dengan melakukan praktikum diharapkan dapat mengetahui cara pembuatan sediaan liquid dengan memilih bahan yang sesuai, metode pembuatan dan mengevaluasi apabila sediaan sudah jadi untuk mendapatkan hasil yang baik.



















1.2  Dasar Teori
1.2.1        Larutan
a.    Pengertian
§  Menurut IMO hal 95
Larutan ialah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, sebagai pelarut digunakan air suling kecuali dinyatakan lain.
§  Menurut FI III hal 32
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut kcuali dinyatakan lain sebagai pelarut digunakan air suling.
b.    Macam-macam Bentuk Sediaan Larutan ( Ilmu Resep, 81-93)
§   Menurut cara pemberiannya dibagi 2, yaitu:
1.    Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis, atau pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven.
Bebrapa contoh larutan oral, antara lain:
a.    Sirup adalah sediaan pekat dalam air dari gula atau pengganti gula dengan atau tanpa penambahan bahan pewangi dan zat obat. Komponen-komponen dari sirup : (1) gula, biasanya sukrosa atau pengganti gula yang digunakan untuk member rasa manis dan kental, (2) pengawat antimikroba, (3) pembau, dan (4) pewarna. (Howard C. Ansel, Ph. D. dkk. Fakultas Farmasi Univ. Georgia 326)
Ada 3 macam sirup yaitu :
a. Sirup simpleks, mengandung 65 % gula dalam larutan nipagin 0,25 % b/v.
b. Sirup obat, mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat tambahan digunakan untuk pengobatan.
c. Sirup pewangi, tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau penyedap lain. Penambahan sirup ini bertujuan untuk menutup rasa atau bau obat yang tidak enak.
b.    Eliksir adalah larutan hidroalkohol yang jernih dan manis dimasukkan untuk penggunaan vital, dan biasanya diberi rasa untuk menambah kelezatan. Dibandingkan dengan sirup eliksir biasanya kurang manis dan kurang kental karena mengandung kadar gula yang lebih rendah dan akibatnya kurang efektif disbanding sirup dalam menutupi rasa senyawa obat. (Howard C. Ansel, Ph. D. dkk. Fakultas Farmasi Univ. Georgia 341)
2.    Larutan topical adalah larutan yang biasanya mengandung air, tetapi seringkali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan pada kulit, atau larutan lidokain oral topical untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut. Sedian-sedian yang termasuk larutan topical :
1.         Collyrium
Adalah sediaan berupa larutan steril, jernih, bebas pirogen, isotonis, digunakan untuk membersihkan mata. Dapat ditambahkan zat dapar dan zat pengawet.
2.   Guttae Ophthalmicae
Tetes mata adalah larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. Tetes mata juga tersedia dalam bentuk suspensi, partikel halus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea.
3.         Gargarisma
Gargarisma / obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. Contohnya : Betadin gargle.
4.         Guttae Oris
Tetes mulut adalah Obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur-kumur, tidak untuk ditelan.
5.         Guttae Nasalis
Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat kedalam rongga hidung, dapat mengandung zat pensuspensi, pendapar dan pengawet. Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa.
6.         Inhalation
Sediaan yang dimaksudkan untuk disedot oleh hidung atau mulut, atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan. Tetesan butiran kabut harus seragam dan sangat halus sehingga dapat mencapai bronkhioli.
7.         Injectiones / Obat suntik
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.
8.         Lavement / Enema / Clysma
Cairan yang pemakaiannya per rectum / colon yang gunanya untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi setempat atau sistemik. Enema yang digunakan untuk membersihkan atau penolong pada sembelit atau pembersih feces sebelum operasi, tidak boleh mengandung zat lendir. Selain untuk membersihkan enema juga berfungsi sebagai karminativa, emolient, diagnostic, sedativa, anthelmintic dan lain-lain.
9.          Douche
Adalah larutan dalam air yang dimaksudkan dengan suatu alat kedalam vagina, baik untuk pengobatan maupun untuk membersihkan. Karena larutan ini mengandung bahan obat atau antiseptik. Contoh : Betadin Vagina Douche.
10.      Epithema / Obat kompres
Adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat-tempat yang sakit dan panas karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk mngeringkan luka bernanah. Contoh : Rivanol.
11.      Litus Oris
Oles bibir adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut. Contoh larutan 10 % Borax dalam gliserin.
§  Penggolongan Berdasarkan Sistem Pelarut dan Zat terlarut
1.    Spirit           : larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol dai zat mudah menguap, umumnya digunakan sebagai bahan pengaroma.
2.    Tingtur        : larutan mengandung etanol atau hidroalkohol yang dibuat dari bahan tumbuhan atau senyawa kimia.
3.    Air aromatik           : larutan jernih dan jenuh dalam air, dari minyak mudah menguap atau senyawa aromatic, atau bahan mudah menguap lainnya.
§  Pelarut yang biasa digunakan adalah :
a.    Air, untuk melarutkan bermacam-macam garam.
b.    Spiritus, untuk melarutkan kamfer, iodine, mentol.
c.    Gliserin, untuk melarutkan tannin, zat samak, boraks, fenol.
d.   Eter, untuk melarutkan kamfer, fosfor, sublimat.
e.    Minyak, untuk melarutkan kamfer, mentol.
f.     Paraffin liquidum, untuk melarutkan cera, cetasium, minyak-minyak, kamfer, mentol, klorbutanol.
g.    Kloroform, untuk melarutkan minyak-minyak, lemak.

c.    Factor-faktor yang Mempengaruhi Larutan
1.    Sifat dari solute dan solvent
Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. Misalnya garam-garam anorganik larut dalam air. Solute yang nonpolar larut dalam solvent yang nonpoar pula. Misalnya alkaloid basa (umumnya senyawa organik) larut dalam kloroform.
2.    Cosolvensi
Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. Misalnya luminal tidak larut dalam air, tetapi larut dalam campuran air dan gliserin atau solutio petit.
3.    Kelarutan
Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, sedangkan zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi umumnya adalah :
a.    Dapat larut dalam air
Semua garam klorida larut, kecuali AgCl, PbCl2, Hg2Cl2. Semua garam nitrat larut kecuali nitrat base. Semua garam sulfat larut kecuali BaSO4, PbSO4, CaSO4.
b.    Tidak larut dalam air
Semua garam karbonat tidak larut kecuali K2CO3, Na2CO3. Semua oksida dan hidroksida tidak larut kecuali KOH, NaOH, BaO, Ba(OH)2. semua garam phosfat tidak larut kecuali K3PO4, Na3PO3.
4.    Temperatur
Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan, zat padat tersebut dikatakan bersifat endoterm, karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas.
Berdasarkan pengaruh ini maka beberapa sediaan farmasi tidak boleh dipanaskan, misalnya :
a. Zat-zat yang atsiri, Contohnya : Etanol dan minyak atsiri.
b. Zat yang terurai, misalnya : natrium karbonas.
c. Saturatio
d. Senyawa-senyawa kalsium, misalnya : Aqua calsis.
5.  Salting Out
Salting Out adalah Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. Contohnya : kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila kedalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh.
6.    Salting In
Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar. Contohnya : Riboflavin tidak larut dalam air tetapi larut dalam larutan yang mengandung Nicotinamida.
7.    Pembentukan Kompleks
Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. Contohnya : Iodium larut dalam larutan KI atau NaI jenuh.
Kecepatan kelarutan dipengauhi oleh :
1. Ukuran partikel : Makin halus solute, makin kecil ukuran partikel ; makin luas permukaan solute yang kontak dengan solvent, solute makin cepat larut.
2. Suhu : Umumnya kenaikan suhu menambah kenaikan kelaruta solute.
3. Pengadukan.
8. Common ion effect (efek ion bersama)
9. Hidrofi

d. Formula Umum Larutan
1. Bahan obat / zat aktif
2. Pembantu pelarut (bila diperlukan)
3. Zat tambahan (bila diperlukan)
4. Pelarut

e. Komposisi Larutan
1. Solvent (zat pelarut), contohnya :
a.    Air, untuk melarutkan bermacam-macam garam.
b.    Spiritus, untuk melarutkan kamfer, iodine, mentol.
c.    Gliserin, untuk melarutkan tannin, zat samak, boraks, fenol.
d.   Eter, untuk melarutkan kamfer, fosfor, sublimat.
e.    Minyak, untuk melarutkan kamfer, mentol.
f.     Paraffin liquidum, untuk melarutkan cera, cetasium, minyak-minyak, kamfer, mentol, klorbutanol.
g.    Kloroform, untuk melarutkan minyak-minyak, lemak.
2.    Solut (zat pelarut), contohnya :
a.       Kamfer                                     i.   Sublimat
b.      Iodin                                         j.   Cera
c.       Mentol                                      k.  Cetasium
d.      Tannin                                      l.   Minyak
e.       Zat samak                                 m.  Lemak
f.       Boraks                                      n.  Klorbutanol
g.      Fenol                                        o.  Macam-macam garam
h.      Fosfor

f. Istilah Kelarutan
1. Sangat mudah larut (kurang dari 1)
2. Mudah larut (1 sampai 10)
3. Larut (10 sampai 30)
4. Agak sukar larut (30 sampai 100)
5. Sukar larut (100 sampai 1000)
6. Sangat sukar larut (1000 sampai 10.000)
7. Praktis tidak larut atau tidak larut (lebih dari 10.000)

g. Keuntungan dan Kerugian Bentuk Sediaan Larutan
a. Keuntungan :
§  Merupakan campuran homogen
§  Dosis dapat diubah-ubah dalam pembuatan
§  Dapat diberikan dalam larutan encer, sedangkan kapsul dan tablet sulit diencerkan.
§  Kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat diabsorpsi.
§  Mudah diberikan pemanis, bau-bauan, wwarna dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak-anak.
§  Untuk pemakaian luar, bentuk larutan mudah digunakan.
b.    Kerugian :
§   Volume bentuk larutan lebih besar
§   Ada obat yang tidak stabil dalam larutan
§   Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan.

h.    Syarat-syarat Larutan
1.      Komponen berupa : cairan, gas, padatan
2.      Pelarutnya berupa cairan
3.      Zat terlarut harus dapat larut dalam pelarutnya

i.      Cara Melarutkan Zat (IMO, 99)
1.      Zat-zat yang mudah larut, dilarutkan dalam botol
2.      Zat-zat yang agak sukar dilarutkan dengan pemanasan
3.      Untuk zat yang akan terbentuk hidrat maka air dimasukkan dulu dalam erlenmeyer agar tidak terbentuk senyawa hidrat yang lebih lambat.
4.      Untuk zat yang meleleh dalam air panas dan merupakan tetes besar dalam dasar erlenmeyer atau botol maka perlu dalam melarutkkan digoyang-goyangkan atau di gojok untuk mempercepat larutnya zat tersebut.
5.      Zat-zat yang mudah terurai pada pemanasan tidak boleh dilarutkan dengan pemanasan dan dilarutkan secara dingin.
6.      Zat-zat mudah menguap bila dipaanasi, dilarutkan dalam botol tertutup dan dipanaskan serendah-rendahnya sambil digoyang-goyangkan.
7.      Obat-obat keras harus dilarutkan tersendiri, untuk meyakini apakah sudah larut semua, dapat dilakukan ditabung reaksi lalu bilas.
8.      Perlu diperhatikan bahwa pemanasan hanya diperlukan untuk mempercepat larutnya suatu zat, tidak untuk menambah kelarutan, sebab bila keadaan menjadi dingin maka akan terjadi endapan.
j.      Evaluasi
1.      Homogenitas




§  Saturasi
Adalah larutan garam yang dibuat dengan mereaksikan asam dan basa. Larutan tersebut dijenuhkan dengan gas CO2.
Tabel saturasi
Untuk 10 bagian
Acidum Acetikum
Acidum Citrikum
Acidum Salicyicum
Acidum Tartancum
Ammonia
58,8
4,1
8,1
4,4
Kalli Carbonas
144,7
10,1
20,0
10,9
Natrii Carbonas
69,9
4,9
9,7
5,2
Natrium Bicarbonas
119
8,3
16,4
8,9

Untuk 10 bagian
Ammonia
Kalium Carbonas
Natrium Bicarbonas
Natrium Carbonas
Acidum Acetikum
1,7
0,7
0,84
1,43
Acidum Citricum
24
9,9
12,0
20,4
Acidum Salicyicum
12,3
5,0
6,1
10,4
Acidum Tartancum
22,7
9,2
11,2
19,1







1.2.2        SUSPENSI
a.    Pengertian
§  FI III, hal 32
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawanya.
§  FI IV, hal 17
Suspensi adalah sediaan yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair.
§  IMO , hal 149
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa.
§  Formulasi Nasional, hal 3
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung obat padat, tidak melarut dan terdispersi sempurna dalam cairan pembawa, atau sediaan padat terdiri dari obat dalam bentuk serbuk sangat halus, dengan atau tanpa zat tambahan yang akan terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa yang ditetapkan.
§  Leon Lachamn, hal 985
Suspensi merupakan sistem heterogen yang terdiri dari dua fase. Fase kontinue atau fase luar umumnya merupakan cairan atau semi padat, dan fase terdispersi atau fase dalam terbuat dari partikel-partikel kecil yang pada dasarnya tidak larut, tetapi seluruhnya dalam fase kontinue. Zat yang tidak larut bisa dimasukkan untuk absorpsi fisiologi atau untuk fungsi pelapisan dalam dan luar.

b.    Macam-macam Suspensi
1.    Suspensi menurut jenisnya
§  Suspensi yang digunakan
§  Suspensi yang dikonstitusikan dengan sejumlah air inteksi atau pelarut lain yang sesuai sebelum digunakan
2.    Suspensi menurut penggunaanya (Ilmu Resep Syamsuni, hal 35)
§  Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditunjukan untuk pengunaan oral.
§  Suspensi topical adalah sedissn cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditunjukan untuk penggunaan pada kulit.
§  Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel yang sangat halus yang ditunjukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.
§  Suspensi opthalmik adalah sediaan cair mengandung partikel yang sangat halus, terdispersi  dalam cairan pembawa ditunjukan untuk pemakaian pada mata.
§  Suspensi ophtalmik harus steril, zat yang terdispersi harus sangat halus, jika di simpan dalam wadah dosis ganda harus mengandung bakterisida, dan zat terdispersi tidak boleh menggumpal pada penyimpanan.
§  Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau kedalam saluran spinal.
§  Suspensi untuk injeksi terkontinyu adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai.

c.    Sifat-Sifat Fisika Suspensi Yang Baik
Beberapa sifat fisik suspensi yang baik adalah sebagai berikut :
1. Partikel suspense harus kecil dan seragam, sehingga memberikan penampilan hasil yang baik dan tidak kasar.
2. Suspensi harus tetap homogen pada suatu periode, paling tidak pada periode antara pengocokan dan penuangan sesuai dosis yang dikehendaki.
3. Viskositas tidak boleh terlalu kental, sehingga tidak menyulitkan pada saat penuangan dari wadah dan untuk mengurangi kecepatan pengendapan partikel yang terdispersi.
4. Pengendapan yang terjadi pada saat penyimpanan harus mudah didispersikan kembali pada pengocokan

d.   Stabilitas suspensi
Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi.
Beberapa faktor yang mempengaruhi stabiltas suspensi adalah :
1.    Ukuran Partikel
            Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antar luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya.
2.Kekentalan / Viskositas
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun  (kecil). 
3.Jumlah Partikel / Konsentrasi
                       Apabila di dalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.
4.Sifat / Muatan Partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alami, maka kita tidak dapat mempengruhi. Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer, homogeniser, colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat dinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut. Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent (bahan pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam air (hidrokoloid).

Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :
1.    Bahan pensuspensi dari alam.
Bahan pensuspensi dari alam yang biasanya digunakan adalah jenis gom / hidrokoloid. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas,PH, dan proses fermentasi bakteri.
a.    Termasuk golongan gom :
Contonya : Acasia ( Pulvis gummi arabici), Chondrus, Tragacanth , Algin.
b.    Golongan bukan gom :
Contohnya : Bentonit, Hectorit dan Veegum.

2. Bahan pensuspensi sintesis
a. Derivat Selulosa
b. Golongan organk polimer

e.    Cara Membuat Obat Dalam Suspensi
1.    Metode pembuatan suspensi :
§  Metode Dispersi
Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat ke dalam micilago yang terbentuk kemudian baru diencerkan. Perlu diketahui bahwa kadang-kadang terjadi kesukaran pada saat mendispersi serbuk dalam vehicle, hal tersebut karena adanya udara, lemak, atau kontaminan pada serbuk-serbuk yang halus mudah kemasukan udara yang sukar dibasahi. Mudah dan sukarnya serbuh dibasahi tergantung besarnya sudut kontak antara zat terdispersi dengan medium. Bila sudah kontak ± 90serbuk akan mengembang diatas cairan, serbuk yang demikian disebut memiliki sifat hidrofi. Untuk menurunkan tegangan antar muka dan partikel zat padat dengan cairan tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau wetting agent.
§  Metode Precipitasi
Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam pelarut organic yang hendak dicampur dengan air. Setelah larut dalam pelarut organic diencerkan dengan larutan pensuspensi. Cairan organic tersebut adalah etanol, propilenglikol dan polietilenglikol.
2.    Sistem pembentukan suspensi :
§  Sistem flokulasi
Sistem flokulasi biasanya mencegah paling tidak pemisahan yang serius tergantung kadar partikel padatnya dan derajat flokulasinya. Sedangakan pada suatu saat system flokulasi kelihatan kasar sebab terjadi flokul.
Sifat umumnya :
-       Partikel merupakan agregat yang basa
-       Sedimentasi terjadi begitu cepat.
§  Sistem deflokulasi
Dalam system deflokulasi, partikel-partikel terdispersi baik dan mengendap sendiri, tapi lebih lambat daripada system flokulasi. Partikel-partikel ini membentuk cake atau sedimen yang sukar terdispersi kembali.
Sifat umumnya :
-       Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain.
-       Sediaan terbentuk lambat.

f.     Formulasi suspensi
Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :
1.    Pada penggunaan ”Structured Vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi Structured Vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dll.
2.    Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, tetapi dengan pengocokan ringan mudah disuspensikan kembali.
Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah :
1. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium.
2. Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer.
3. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir.
4. Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah Structured Vehicle.
5. Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam Structured Vehicle.

g. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Suspensi
Keuntugan sediaan suspensi antara lain sebagai berikut :
a.    Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo, yang dapat memperlambat terlepasnya obat.
b.    Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan. Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam larutan, karena rasa obat yang tergantung kelarutannya.
Kerugian bentuk suspensi antara lain sebagai berikut :
a.    Rasa obat dalam larutan lebih jelas.
b.    Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya pulveres, tablet, dan kapsul.
c.    Rentan terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi kimia antar kandungan dalam larutan di mana terdapat air sebagai katalisator .



h. Komponen sediaan Suspensi Secara Umum
1. Bahan Berkhasiat
Bahan berkhasiat merupakan bahan yang mampu memberikan efek terapi, pada suspense disebut fase terdispersi, bahan ini mempunyai kelarutan yang tidak larut di dalam pendispersi.
2. Bahan Tambahan
§  Bahan Pensuspensi atau Suspending Agent
Bahan pensuspensi yaitu bahan tambahan yang berfungsi mendispersikan partikel tidak larut dalam pembawa dan meningkatkan viskositas sehingga kecepatan sedimentasi diperlambat.
§  Macam suspending agent antara lain:
a.    Golongan polisakarida, contohnya acasia gom, tragacantha, alginate.
b.    Golongan selulosa larut air, contohnya metal selulosa, hidroksi etil selulosa, Na-CMC, avicel.
c.    Golongan tanah liat, contohnya bentoit, veegum, aluminium,magnesiu silica, hectocrite.
d.   Golongan sintetik, contohnya carbomer, carboxypolymethylene, colloidal, silicon dioksida.
Suspending agent berfungsi mendispersikan partikel tidak larut kedalam pembawa dan meningkatkan viskositas sehingga kecepatan pengendapan bisa diperkecil. Mekanisme kerja suspending agent adalah untuk memperbesar kekentalan (viskositas), tatapi kekentalan yang berlebihan akan mempersulit rekonstitusi dengan pengocokan.
Suspensi yang baik memepunyai kekentalan yang sedang. Disamping itu penggunaan suspending agent dapat menurukan tegangan antar permukaan antar dua partikel yang tidak bisa saling tercampur yaitu zat aktif dan cairan pembawa.
3. Bahan Pembasah
Humektan digunakan tergantung dari sifat permukaan padat cair bahan aktif. Serbuk sulit dibasahi air disebut hidrofob, seperti sulfur, carbo adsorben, magnesis stearat, dan serbuk mudah dibasahi oleh air disebut hidrofil, seperti Toluene, Zinci Oxydi, Magnesi carbonas. Dalam pembuatan suspense penggunaan himektan sangat berguna dalam penurunan tegangan antar muka dan pembasah akan dipermudah. Mekanisme kerja himektan adalah menghilangkan lapisan udara pada permukaan zat padat, sehingga zat padat dan humektan lebih mudah kontak dengan pembawa. Beberapa contoh humektan antara lain gliserin, propilen glikol, polietilen glikol, dan laritan gom, pada sediaan suspense ibuprofen ini bahan pembasah menggunakan sorbitol.
4. Pemanis
Pemanis berfungsi untuk memperbaiki rasa di sediaan. Dilihat dari hasil kalori yang dihasilkan dibagi menjadi dua yaitu berklori tinggi dan berkalori rendah. Adapun pemanis tinggi misalnya sakarin, sukrosa. Sedangkan pemanis kalori rendah misalnya laktosa. Zat pemanis yang dapat meningkatkan gula darah atau memiliki nilai kalor yang tinggi dan dapat digunakan dalam formulasi untuk pengobatan diabetes pada sediaan suspense Ibuprofen sebagai pemanis menggunakan syrup simplex.
5. Pengawet
Pengawet berfungsi untuk mencegah terjadinya pertumbuhan mikroba dalam sediaan sehingga dapat menstabilkan sediaan dalam masa penyimpanan yang lama. Beberapa contoh pengawet antara lain, Metil paraben, asam benzoate, Chlor butanol, dan Chlorida Kwartener.
6. Pewarna dan Pewangi
Bahan pewarna dan pewangi harus sesuai dengan rasa sediaan. Contoh pewarna adalah carmin dan caramel, dan contoh pewangi adalah Oleum Menthae, Oleum Citrii.
7. Bahan Pembawa
Sebagai bahan pembawa untuk suspensi adalah air dan minyak.

i. Evalusi Stabilistas Fisik Suspensi
a. Evaluasi Laju sedimentasi
            Merupakan kecepatan pengendapan dari partikel-partikel suspense. Adapun factor-faktor yang terlibat dalam laju dari kecepatan mengendap partikel-partikel suspensi tercakup dalam persamaan hokum srokes.
Kecepatan sedimentasi berdasarkan hukum stokes di atas dipengaruhi :
§  Kerapatan fase terdispersi dan kerapatan fase pendispersi
Sifat yang diinginkan yaitu kerapatn partikel lebih besar daripada kerapatn pembawa, karena bila partikel lebih ringan dari kerapatn pembawa maka partikel akan mengambang dan sulit didistribusikan secara homogeny ke dalam pembawa.
§  Diameter ukuran partikel
Laju sedimentasi dapat diperlambat dengan mengurangi ukuran partikel dari fase terdispersi karena semakin kecil ukuran partikel maka kecepatan jatuhnya lebih kecil.
§  Viskositas medium pendispersi
Laju sedimentasi dapat berkurang dengan cara menaikkan viskositas medium disperse, tetapi suatu produk yang mempunyai viskositas tinggi umumnya tidak diinginkan karena sulit dituang, sebaiknya viskositas suspense dinaikkan sampai viskositas sedang saja.
b. Evaluasi volume Sedimentasi
Volume sedimentasi (F) adalah perbadingan dari volume endapan yang etrjadi (VU) terhadap volume awal dari suspense sebelum mengendap (V0) setelah suspense didiamkan.
Prosedur evaluasi volume sedimentasi adalah sebagai berikut:
1.      Sediaan dimasukkan ke dalam tabung sedimen yang berkala.
2.      Volume yang diisikan merupakan volume awal.
3.      Setelah didiamkan beberapa waktu/ hari diamati volume akhir dengan terjadinya sedimentasi volume akhir terhadap volume yang diukur ((VU)
4.      Dihitung volume sedimentasi
c. Evaluasi Waktu Redispersi
Waktu redispersi dapat diketahui dengan cara mengocok sediaan dalam wadahnya atau dengan menggunakan pengocok mekanik atau tangan. Suspense didiamkan hingga mengendap kemudian masing-masing suspense dikocok homogen dan dicatat waktunya. Kemampuan redispersi baik bila suspense telah terdispersi sempurna dengan pengocokan dalam waktu maksimal 30 detik.




1.2.3        EMULSI
a.    Pengertian
§  Pengantar bentuk sediaan farmasi eds. IV, hal 376
Emulsi adalah suatu disperse dimana fase terdispersi terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdispersi keseluruh pembawa yang tidak bercampur.
§  FI IV, hal 6
Emulsi adalah system dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil.
§  FI III, hal 9
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat terdispersi dalam pembawa, distabilkan dengan zat pengemudi atau surfaktan yang cocok.
§  Formularium Kosmetika yang Cocok
Emulsi adalah sediaan dasar berupa sistem dua fase, terdiri dari dua cairan yang tidak bercampur dimana salah satu terdispersi dalam bentuk glabul cairan lainnya, jika konsistensinya lebih kental biasanya disebut krim.

b.    Macam-macam Sediaan Emulsi
a.    Berdasarkan Cara Penggunaannya Emulsi dibagi menjadi 2, yaitu :
1.    Emulsi untuk pemakaian dalam (peroral)
Penggunaanya emulsi peroral biasanya mempunyai tipe minyak dalam air, mucilage merupakan film penutup dari minyak obatnya untuk menutupi rasa tidak enak, zat perasa diberikan pada fase ekstran untuk menaikkan rasa enak.
2.    Emulsi untuk injeksi
Emulsi parenteral telah diselidiki untuk penggunaan makanan dan minyak obat untuk hewan dan manusia, penggunaan emulsi parenteral meminta perhatian khusus selama produksi seperti pemilihan emulgator ukuran dan kesamaan butir tetes pada penggunaan intravena.
3.    Emulsi untuk penggunaan luar (topikal)
Baik bentuk minyak dalam air atau air dalam minyak yang dapat dipakai untuk pemakaian kulit dan membrane mukosa. Dengan proses emulsi memungkinkan terbentuk lotio atau cream yang konsistennya mempunyai sifat-sifat :
-       Dapat meluas pada daerah yang diobati
-       Dapat mudah dicuci
-       Tidak membekas pada pakaian
-       Memiliki bentuk, bau, warna, dan rasa yang baik
b.    Berdasarkan zat cair yang berfungsi sebagai fase internal dan fase eksternal, yaitu :
1.      Emulsi tipe o/w (oil in water) atau m/a (minyak dalam air) adalah emulsi ang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi dalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal.
2.      Emulsi tipe w/o (water in oil) atau a/m (air dalam minyak) adalah emulsi yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi dalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal.

c.    Syarat-syarat Emulsi
§  Sediaan emulsi dapat terbentuk jika :
-          Terdapat 2 zat yang tidak saling melarutkan
-          Terjadi proses pengadukan (agitasi)
-          Terdapat emulgator
Sediaan emulsi yang baik adalah sediaan emulsi yang stabil, dikatakan stabil apabila sediaan emulsi tersebut dapat mempertahankan distribusi yang teratur dan fase terdispersi dalam jangka waktu yang lama. (R. voight 434)
§  Syarat-syarat emulsi topical ( Formularium Kosmetik Indonesia 1985, hal 33), yaitu :
-          Mudah dioleskan merata pada kulit
-          Mudah dicuci
-          Tidak berbau tengik
-          Tidak menodai pakaian
-          Bebas partikulasi keras
-          Tidak mengiritasi kulit
-          Sifatnya dalam penyimpanan : a) tetap homogeny dan stabil. b) tidak berbau tengik.
d.   Keuntungan Sediaan Emulsi
1.      Meningkatkan bioavalailibilitas obat
2.      Memberikan perlindungan terhadap obat yang rentan terhadap oksidasi dan hidrolis
3.      Mentupi rasa tidak enak
4.      Sebagai topikaal : membersihkan, pembawa air (pelembut yang excellent) ke kulit.
5.      Viskositas, penampilan dan tingkat lemak dari emulsi kosmetik atau dermatologi dapat di control.
6.      Emulsi parenteral, karena tetesan harus dipertahankan stabil dengan ukuran < 1 ยต untuk mencegah emboli.

e.    Komposisi Sediaan Emulsi
a.    Bahan aktif, terdiri dari :
1.    Paraffin cair
2.    Oleum Jec Aselli
3.    Curcuboitae Sem
b.    Komposisi dasar yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat di dalam emulsi, terdiri dari :
1.    Fase dispersi/ fase internal/ fase continue/ fase disperse/ fase dalam, yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil di dalam zat lain.
2.    Fase continue/ fase eksternal/ fase pendispersi/ fase luar, yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (bahan pendukung) emulsi tersebut.
3.    Emulgator adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
Bahan-bahan pengemulsi (emulgator), antara lain :
a.    Emulgator alam : emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit, dapat digolongkan menjadi 3 golongan yaitu :
1.    Emulgator dari tumbuh-tumbuhan
Termasuk golongan  karbohidrat dan merupakan emulgator tipe o/w, sangat peka terhadap elektrolit dan alcohol kadar tinggi dan dapat dirusak oleh bakteri. Pembuatan emulsi dengan emulgator ini harus selalu menambahkan bahan pengawet.
a.    Gom Arab
Sangat baik untuk emulgator tipe o/w dan obat minum. Emulsi yang terbentuk sangat stabil dan tidak terlalu kental. Kestabilan emulsi dibuat dengan gom arab berdasarkan 2 fakktor, yaitu :
1.    Kerja gom arab sebagai koloid pelindung (teori plastig film)
2.    Terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga laju pengendapannya cukup kecil, tetapi massa masih dapat dituang (tiksotropik).
Jika tidak dinyatakan lain, emulsi yang dibuat dengan gom arab menggunakan gom arab sebanyak 1 dari jumlah minyaknya. Untuk membuat korpus emulsi (inti emulsi) diperlukan air 1,5 x bobot gom, kemudian di aduk kuat-kuat lalu diencerkan dengan sisa airnya.
b.    Tragakan
Disperse tragakan dalam air sangat kental sehingga untuk memperoleh emulsi dengan viskositas yang baik hanya diperlukan tragakan sebanyak 1/10 kali gom arab saja. Emulgator ini hanya bekerja optimum pada pH 4,5-6. Tragakan di buat korpus emulsi dengan penambahan air sekaligus sebanyak 20 kali berat tragakan. Tragakan hanya berfungsi sebagai pengental, tidak dapat membentuk koloid pelindung seperti pada gom.
c.    Agar-agar
Emulgator ini kurang efektif jika digunakan sendiri. Pada umumnya zat ini ditambahkan untuk menambah viskositas dari emulsi dengan gom arab. Sebelum dipakai agar-agar ini dilarutkan dulu dengan air mendidih. Kemudian didinginkan pelan-pelan sampai suhu kurang dari 45o C (jika suhu kurang dari 45o C larutan agar-agar akan membentuk gel). Biasanya digunakan 1-2%.
d.   Condrus
Sangat baik dipakai untuk emulsi minyak ikan karena dapat menutupi rasa dan minyak ikan tersebut. Cara mempersiapkannya seperti pada agar-agar.
e.    Emulgator Lain
§  Kuning telur mengandung lesitin (golongan protein atau asam amino) dan kolesterol, yang semuanya itu dapat berfungsi sebagai emulgator. Lesitin adalah emulgator tipr o/w, sedangkan kolesterol adalah tipe w/o, kemampuan lesitin lebih besar dari kolesterol sehingga secara total kuning telur merupakan emulgator tipe o/w. lesitin ini mampu mengemulsikan minyak lemak 4 kali bobotnya dan minyak mengandung 2 kali bobotnya.
§  Adeps lanae
Zat ini banyak mengandung kolesterol, merupakan emulgator tipe w/o dan banyak dipergunakan untuk pemakaian luar. Dalam keadaan kering dapat menyerap air 2 kali bobotnya.
2.    Emulgator dari mineral
a.    Magnesium Alumunium  Silikat ( Vegum) merupakan senyawa organic yang terdiri atas garam-garam magnesium dan alumunium. Dengan garam-garam magnesium dan alumunium, emulgator ini emulsi yang terbentuk adalah emulsi tipe o/w, sedangkan pemakaian lazim adalah sebanyak 1 %. Emulsi ini kurang khusus untuk pemakaian luar.
b.    Bentonit. Tanah liat terdiri atas senyawa alumunium silikat yang dapat mengabsorpsikan sejumlah besar air sehingga membuat massa seperti gel. Untuk tujuan sebagai emulgator dipakai sebanyak 5%.
3.    Emulgator buatan/sintetis
a.    Sabun. Sangat banyak dipakai untuk tujuan luar, sangat peka terhadap elektrolit. Dapat dipergunakan sebagai emulgator tipe o/w maupun w/o tergantung pada valensinya. Sabun bervalensi 1, misal sabun kalium merupakan emulgator tipe o/w, sedangkan sabun bervalensi 2, misal sabun kalsium merupakan emulgator tipe w/o.
b.    Tween : 20;40;60;80
c.    Span   : 20;40;80

§  Emulgator dapat dikelompokkan menjadi :
-       Anionik      : sabun alkali, Na-Lauril Sulfat
-       Kationik     : senyawa ammonium kuarterner
-       Nonionic     : tween dan span
-       Amfoter      : protein, lesitin

f.     Metode Pembuatan Emulsi
1.    Metode Gom Kering
Disebut pula metode continental dan metode 4;2;1. Emulsi dibuat dengan jumlah komposisi minyak dengan ½ jumlah volume air dan ¼ jumlah emulgator. Sehingga diperoleh perbandingan 4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian emulgator.
Pertama-tama gom didispersikan ke dalam minyak, lalu ditambahkan air sekaligus dan diaduk /digerus dengan cepat dan searah hingga terbentuk korpus emulsi.
2.    Metode Gom Basah
Disebut pula sebagai metode Inggris, cocok untuk penyiapan emulsi dengan musilago atau melarutkan gum sebagai emulgator, dan menggunakan perbandingan 4;2;1 sama seperti metode gom kering. Metode ini dipilih jika emulgator yang digunakan harus dilarutkan / didispersikan terlebih dahulu kedalam air misalnya metilselulosa. 1 bagian gom ditambahkan 2 bagian air lalu diaduk, dan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk dengan cepat.
3.    Metode Botol
Disebut pula metode Forbes. Metode ini digunakan untuk  emulsi dari bahan-bahan menguap dan minyak-minyak dengan kekentalan yang rendah. Metode ini merupakan variasi dari metode gom kering atau metode gom basah. Emulsi terutama dibuat dengan pengocokan kuat dan kemudian diencerkan dengan fase luar.
Dalam botol kering, emulgator yang digunakan ¼ dari jumlah minyak. Ditambahkan dua bagian air lalu dikocok kuat-kuat, suatu volume air yang sama banyak dengan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus dikocok, setelah emulsi utama terbentuk, dapat diencerkan dengan air sampai volume yang tepat.

g.    Evaluasi Mutu Fisik
1.    Sistem HLB (Ilmu Resep, 122)
Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama. Harga keseimbangan ini dikenal dengan istilah “HLB” (Hidrophyl Lipophyl Balance) yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok hidrofil dengan kelompok lipofil. Semakin besar harga HLB, berarti semakin banyak kelompok yang suka air, artinya emulgator tersebut lebih mudah larut dalam air dan demikian sebaliknya.



1.2.4   Formulasi
1.    Larutan
§  Larutan topical
R/ Chloramphenicolum           1 g
     Propylenglycolum ad  10 ml
            S2 dd 2 gtt dext

§  Dasar teori
Guttae Auriculares adalah obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara diteteskan pada telinga.
§  Monografi
1.    Chloramphenicolum (FI IV, hal 189)
·      Nama lain          : Kloramfenikol
·      Pemerian            : Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang ; putih hingga putih kelabu atau kekuningan ; larut praktis netral terhadap lakmus P ; stabil dalam larutan netral atau larut agak asam.
·      Kelarutan           : Sukar larut dalam air ; mudah larut dalam etanol, dalam propilen glikol, dalam aseton dan dalam etil asetat.
·      Khasiat              : Antibiotik
2.    Propylenglycolum (FI IV, hal 712)
·      Nama lain          : Propilen glikol
·      Pemerian            : Cairan kental, jernih, tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air pada udara lembab.
·      Kelarutan           : Dapat bercampur dengan air, dengan aseton dan kloroform, larut dalam eter dan dalam beberapa minyak esensial, tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak lemak.
·      Khasiat              : Zat tambahan sebagai pelarut (FI III, hal 534)
§  Perhitungan Bahan
1.      Kloramfenikol  = 1g/10 ml x 10 ml = 1 g = 1 ml
2.      Propilen glikol  = 10 ml – 1 ml = 9 ml




§  Alat dan Bahan
Alat
Bahan
Anak timbangan
Kloramfenikol
Timbangan kasar dan halus
Propilen glikol
Gelas ukur
Kertas perkamen
Beaker glass
Tissue
Batang pengaduk

Sendok tanduk

Pipet

Pinset

Botol coklat

Mortir + stemper

Serbet


§  Cara Pembuatan
1.      Disiapkan alat dan bahan
2.      Timbangan disetarakan
3.      Kalibrasi botol 10 ml
4.      Ditimbang kloramfenikol 1 g, kemudian diletakkan pada mortar, gerus add halus
5.      Diambil propylenglikol 9 ml menggunakan pipet dan dimasukkan ke dalam gelas ukur, kemudian dituang dalam beaker glass.
6.      Dimasukkan kloramfenikol ke dalam beaker glass tadi yang berisi propylenglikol, aduk add homogen.
7.      Dimasukkan dalam botol coklat, ditutup kemudian diberi etiket biru.

§  Larutan topical
R/ Rivanol                   2 %
    Aquades  add          60 ml
            m.f. Solutio
               s.u.e


§  Dasar teori
Solutio adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia terlarut.

§  Monografi
1.    Rivanol (FI IV, hal 61)
·      Nama lain          : Aethacridin Lactas
·      Pemerian            :  Serbuk hablur ; tidak berbau ; rasa sepat dan pahit ; larutan dalam air bereaksi netral ; jika diencerkan berfluoresensi hijau.
·      Kelarutan           : Agak sukar larut dalam air, mudah larut dalam air panas, sukar larut dalam etanol. Larut dalam etanol 50 bagian air, dalam 9 bagian air panas dan dalam 100 ml etanol (95%) P. (FI III, hal 62)
·      Khasiat              : Antseptikum ekstern. (FI III, hal 63)
2.    Aquadest
·      Nama latin         : Aqua Destilla
·      Nama lain          : Air suling
·      Pemerian            : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
§  Perhitungan Bahan
1.      Rivanol 2 %  = 2 g/ 100 ml x 60 ml = 1,2 gram
2.      Aquades add 60 ml = 60 ml – 1,2 g = 58,8 ml
§  Alat dan bahan
Alat
Bahan
Anak timbangan
Rivanol
Timbangan
Aquades
Beaker glass
Tissue
Gelas ukur
Kertas saring
Sendok tanduk

Pinset

Mortar + stemper

Sendok tanduk

Batang pengaduk

Botol coklat

Pinset

Corong



§  Cara Pembuatan
1.      Disiapkan alat dan bahan
2.      Timbangan disetarakan
3.      Dikalibrasi botol 60 ml
4.      Ditimbang rivanol 1,2 g
5.      Dimasukkan rivanol ke dalam beaker glass yang berisi air mendidih di aduk add homogeny, ditunggu sampai dingin.
6.      Disiapkan corong beralas kertas saring, kemudian larutan dimasukkan ke dalam botol coklat.
7.      Ditutup, diberi etiket biru.

§  Larutan oral
R/ Potio Nigra Contra Tussim 60 ml
                        S4 dd 1 c

§  Resep Standar (FMS, hal 55)
Potio Nigra Tussim (obat batuk hitam)
R/ Succi Liquir                   10
    Ammonium Chlorida     6
    S.a.s.a                             6
    Aquades       add            300

§  Monografi
1.    Ammonium Chlorida (FI III, hal 87)
·      Nama lain          : Ammonium klorida
·      Pemerian            : Serbuk atau hablur putih ; tidak berbau ; rasa asin dan dingin ; higroskopis.
·      Kelarutan           : Mudah larut dalam air dan dalam gliserol, lebih mudah larut dalam air mendidih, agak sukar larut dalam etanol (95%) P.
·      Khasiat              : Ekspektoran
2.    S.a.s.a (Solutio Ammoniae Spirituosa Anisata) (Fh 5, hal 522)
·      Minyak adas manis        4
·      Spiritus                          76
·      Ammonia                       20
·      Cara pembuatannya : Larutkan 4 bagian minyak adas manis dalam 76 bagian spiritus, tambahkan 20 bagian ammonia zat cair yang mula-mula tidak berwarna lama kelamaan menjadi kuning muda, bau kuat seperti minyak adas manis seperti ammonia.
3.    Succi Liquir / Chlyrhizae Succus / Ekstrak akar manis (FI IV, hal 416)
·      Pemerian            : Batang berbentuk silinder atau bongkah besar licin agak mengkilap, hitam coklat tua atau serbuk berwarna coklat.
·      Khasiat              : Zat tambahan (FI III, hal 276), ekspektoran (OOP, hal 274).
§  Perhitungan Dosis
1.      DM Ammonium klorida = (- / 10 g)
-          DM 1xh           = 10/20 x 10 g = 5 gram
-          DR  1xp          = 15ml / 60 ml x 1,2 g = 0,3 gram
       1xh           = 0,3 gram x 4 = 1,2 gram
-          % DR 1xh       = DR / DM x 100 %
                        = 1,2g / 5g x 100 %
                        = 24 %       
§  Perhitungan Bahan
1.      Succi liquir 10 = 10 / 300 ml x 60 ml = 2 g
2.      Ammonium klorida 6 = 6 / 300 ml x 60 ml = 1,2 g
3.      S.a.s.a  6 = 6 / 300 ml x 60 ml = 1,2 g
4.      Aquades add 60 ml = 60 ml – (10 + 6 + 6) = 38 ml
§  Alat dan Bahan
Alat
Bahan
Timbangan + anak timbangan
Ammonium Chlorida
Mortar + stemper
S.a.s.a
Batang pengaduk
Succi liquir
Beaker glass
Aquades
Gelas ukur
Tissue
Botol coklat
Kertas perkamen
Gelas arloji + penara

Serbet

Pinset

§  Cara Pembuatan
1.      Disiapkan alat dan bahan
2.      Timbangan disetarakan
3.      Ditimbang succi liquir 2 g, dimasukkan ke dalam beaker glass
4.      Ditimbang ammonium klorida dengan gelas arloji, dimasukkan ke campuran no. (3), aduk add homogeny.
5.      Dimasukkan dalam botol coklat.
6.      Ditambahkan s.a.s.a ke dalam botol 2-3 tetes
7.      Tutup botol dan diberi etiket putih
§  Pembahasan
Dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil yang kurang maksimal seperti pada sediaan OBH yang tidak larut sempurna karena masih ada yang menggumpal. Hal itu disebabkan karena beberapa hal, seperti mungkin pada saat menggerus atau pada pengadukannya kurang lama sehingga menyebabkan sediaan yang di buat kurang memuaskan. Namun pada sediaan kloramfenikol dan rivanol didapatkan hasil yang baik karena pada kloramfenikol dan rivanol sediaan larut sempurna dan volumenya juga sesuai.

§  Larutan topical
R/ Asam citrat             0,75
    Asam tartat             qs
    Na. Bicarbonat        2
    Syrup simplex         10 %
    Aquades        add    100
            m.f. Saturasi
            S dd 2 vic 1
§  Monografi
1.    Asam Citrat (FI IV, hal 48)
·      Nama latin         : Acidum Citricum
·      Pemerian            : Hablur bening ; tidak berwarna / serbuk hablur granul sampai halus ; putih, tidak berbau atau praktis tidak berbau ; rasa sangat asam.
·      Kelarutan           : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol, agak sukar larut dalam eter.
2.    Asam Tartat (FI IV, hal 53)
·      Nama latin         : Acidum Tartanicum
·      Pemerian            : Hablur ; tidak berwarna atau bening atau serbuk hablur sampai granul, warna putih ; tidak berbau ; rasa asam dan stabil di udara.
·      Kelarutan           : Sangat mudah larut dala air, mudah larut dalam etanol.
3.    Natrium Bicarbonat (FI IV, hal 60)
·      Nama latin         : Natrii Subcarbonas
·      Pemerian            : Serbuk hablur, putih stabil di udara kering, tetapi dalam udara lembab secara perlahan-lahan, terurai larut segar dalam air dingin tanpa di kocok, bersifat basa terhadap lakmus.
·      Kelarutan           : Larut dalam air, tidak larut dalam etanol.
4.    Syrup Simplex (FI III, hal 567)
·      Nama lain          : Sirup gula
·      Pemerian            : Cairan jernih, tidak berwarna.
·      Cara pembuatan : Larutkan 65 bagian sukrosa dalam larutan metal paraben 0,25 % b/v qs hingga diperoleh 100 bagian sirup. Terdiri dari 64 bagian gula dan 36 bagian air. (PH ned, hal 516)
§  Perhitungan Bahan
1.    Asam citrat             = 0,75 g = 750 mg
2.    Asam tartat             = qs (IMO, hal 119)
10 bagian Asam citrat = 12 bagian Na. bicarbonate
                   0,75           =  x
                   x                =  0,75 x 12 / 10 = 0,9 bagian Na. bicarbonate
Natrium bicarbonat                  = 2 – 0,9 = 1,1 gram
10 bagian Na. bicarbonat = 8,9 bagian asam tartat
                   1,1                   =  x
                   x                      = 1,1 x 8,9 / 10 = 0,97 bagian asam tartat
3. Natrium Bicarbonat = 2 gram
4. Syrup simpelex  =  10/100 x 100 = 10 gram


5. Aqua = 100 – (0,75 + 0,97 + 2 + 10)
              = 100 – 13,72 = 87                     basa = 2/3 = 58 ml

+  basa
 
                                                                 Asam = 1/3 = 29 ml                  2/3
                                                                                                                   1/3
§  Alat dan Bahan
Alat
Bahan
Timbangan + anak timbangan
Asam citrate
Besker glass
Asam tartat
Batang pengaduk
Na. Bicarbonat
Sendok tanduk + pinset
Syrup simplex
Gelas ukur
Aquades
Botol
Perkamen
Serbet
Tissue

§  Cara Pembuatan
1.      Disiapkan alat dan bahan
2.      Timbangan disetarakan
3.      Dikalibrasi botol 100 ml
4.      Ditimbang asam citrate 750 mg, dilarutkan dengan aquades dalam beaker glass
5.      Ditimbang asam tartat 970 mg, dilarutkan dengan aquades, dimasukkan ke dalam larutan no. (4)
6.      Ditimbang syrup simplex, dimasukkan ke dalam larutan no. (5), aduk add homogen.
7.      Ditimbang natrium bicarbonat , dilarutkan dengan aquades sesuai dengan kelarutannya (2/3 aqua), dengan gerus tuang.
8.      Larutan natrium bicarbonat dimasukkan dalam botol saturasi
9.      Di ukur larutan no. (6) kira-kira 2/3 nya (26 ml) hingga terbentuk gas CO2 dengan ditandai terbentuknya gelembung, masukkan secara perlahan melalui tepi dinding botol.
10.  Dimasukkan sisa larutan no. (6) ke dalam botol secara hati-hati.
11.  Segera tutup botol dan diikat dengan cara di tali sampagne dan beri etiket.
§  Pembahasan
Pada saat praktikum saturasi didapatkan hasil yang kurang memuaskan karena pada sediaan hanya menghasillkan gas sedikit. Hal itu terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti pada saat menuangkannya kurang hati-hati sehingga menyebabkan sediaan tumpah saat akan memasukkannya pada botol dan itu juga mempengaruhi volume larutan yang semula 100 ml menjadi kurang dari 100 ml.

§  Suspensi Oral
R/ Susp. Kloramfenikol          60 ml
            S t dd 1 c

§  Resep Standar (Fornas, hal 66)
Komposisi tiap 5 ml mengandung Chlorampehenicoli palmitat setara dengan :
Chloramphenicolum                                   125 mg
Carboxy Methyl Celluiosum Natrium        50  mg
Polysorbatum-80                                        25  mg
Propylen glycolum                                       1   g
Syrup simplex                                             1,5  g
Aqua destilla                      add                  5   mg
§  Catatan :
1.    Pada etiket harus tertera :
a.       Kesetaraan kloramfenikol
b.      Daluarsa (expiced)
2.    1,749 kloram palmitat setara dengan lebih kurang 1 g kloramfenikol.
§  Monografi
1.    Cloramphenicolum palmitat (FI IV, hal 195)
·      Nama lain          : Kloramfenikol palmitat
·      Pemerian            : Serbuk hablur ; halus seperti lemak ; putih ; bau lemah ; hamper tidak berwarna dan berasa.
·      Kelarutan           : Tidak larut dalam air, mudah larut dalam asetat dan dalam kloroform, larut dalam eter, agak sukar larut dalam etanol, sangat sukar larut dalam
·      Khasiat              : Antibiotik
2.    Carboxy Methyl Celulosa Natrium (FI IV, hal 175)
·      Pemerian            : Serbuk atau granul ; putih sampai krem ; higroskopis
·      Kelarutan           : Mudah terdispersi dalam air membentuk larutan kolodial, tidak larut dalam etanol, dalam eter dan dalam pelarut organic lain.
·      Khasiat              : Suspending Agent, penstabil suspense (konsentrasi 0,1 -1,0 %)
3.    Polysorbatum-80 (FI III, hal 509)
·      Nama lain          : Polisorbat-80
·      Pemerian            : Cairan kental seperti : jernih, kuning ; bau asam lemak, khas methanol P, sukar larut dalam paraffin cair P dan dalam minyak biji kapas P.
·      Khasiat              : Zat taambahan (pembasah)
4.    Propylenglicolum (FI IV, hal 712)
·      Nama lain          : Propilen glikol
·      Pemerian            : Cairan kental ; jernih ; tidak berwarna ; rasa khas ; praktis tidak berbau ; menyerap air pada udara lembab.
·      Kelarutan           : Dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan kloroform ; larut dalam eter dan dalam beberapa minyak esensial ; tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak lemak.
·      Khasiat              : Zat tambahan dan pelarut (FI III, hal 534) dan Pengawet, pelarut, penstabil vitamin, pelembab (Handbook, 241)
5.    Syrup simplex (FI III, 567)
·      Nama lain          : Sirup gula
·      Pemerian            : Cairan jernih, tidak berwarna.
·      Cara pembuatan : Larutkan 65 bagian sukrosa dalam larutan metal paraben 0,25 % b/v qs hingga diperoleh 100 bagian sirup. Terdiri dari 64 bagian gula dan 36 bagian air. (PH ned, hal 516)
6.    Aqua Destilla
·      Nama lain          : Aquades (air suling)
·      Pemerian            : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
§  Perhitungan Bahan
1.    Chloramphenicol    = 125mg / 5 ml x 60 ml = 1500 mg = 1,5 g
1,74 g kloram. Palmitat = 1 g kloramfenikol
                   1,74 g / 1 g  =  x / 1,5 g
                               x      = 2,61 gram
2.    CMC-Na    =  50 mg / 5 ml x 60 ml = 600 mg = 0,6 g
Air yang dubutuhkan untuk pembuatan CMC-Na =
0.6 g / x = 1 g/ 20 ml = 12 ml
3.    Polysorbatum-80    = 25 mg / 5 ml x 60 ml = 300 mg
4.    Propylen glikol       = 1 g / 5 ml x 60 ml         = 12 g
5.    Syrup simplex         = 1,5 g / 5 ml x 60 ml      = 18 g = 18 ml
§  Alat dan Bahan
Alat
Bahan
Timbangan + anak timbangan
Kloram. Palmitat
Beaker glass
CMC-Na
Batang pengaduk
Polysorbatum-80
Sendok tanduk
Propilen glikol
Gelas ukur
Syrup simplex
Botol
Aquades
Gelas arloji + penara
Tissue
Cawan
Kertas perkamen
Mortir + stemper

Pipet

Serbet


§  Cara Pembuatan
1.      Disiapkan alat dan bahan
2.      Timbangan disetarakan
3.      Ditimbang CMC-Na 0,6 g, masukkan dalam mortar yang berisi 12 ml air dengan cara ditaburkan, tunggu sampai mengembang dan membentuk suspending agent.
4.      Ditimbang kloram. Palmitat 2,61 g, masukkan dalam cawan
5.      Ditimbang polysorbatum-80 sebanyak 300 mg dalam gelas arloji, masukkan ke cawan penguap no. (4)
6.      Diambil propilen glikol 12 ml, masukkan ke cawan no. (4)
7.      Dimasukkan sirup simplex 18 ml ke cawan penguap no. (4)
8.      Semua bahan yang sudah di campur dimasukkan dalam mortar yang sudah membentuk mucilage, gerus add halus.
9.      Ditambahkan sisa air ke dalam mortir, gerus dan ditambahkan rasa dan pewarna yang diinginkan, gerus add homogen.
10.  Dimasukkan dalam botol, tutup dan diberi etiket putih.


§  Pembahasan
Organoleptis :
Bau                  : Strowberry
Rasa                : Manis
Warna              : Merah muda
Kelarutan        : Larut
Volume           : 60 ml
Homogenitas   : homogen
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan pada pembuatan sediaan suspense ini, didapatkan hasil yang baik karena dilihat dari kelarutannya, volume dan tingkat homogenitas sudah sesuai.

§  Emulsi Oral
R/ Oleum Lecoris Aseli           100
    Gliserin                                  10
    Gom Arabicum                     30
    Oleum Cinamoni                 gtt IV
    Aqua                       add      215

§  Formula Rancangan
R/ Oleum Lecoris Aseli           13,95
    Gliserin                                  1,39
    Gom Arabicum                     4,18
    Oleum Cinamoni                 gtt IV
    Aqua                       add      30
§  Monografi
1.    Olemu Lecoris Aseli
·      Nama lain          : Minyak ikan
·      Pemerian            : Cairan kental, encer, berbau khas, tidak tengik, rasa, dan bau seperti ikan.
·      Kelarutan           : Sukar larut dalam etanol, mudah larut dalam eter, dalam kloroform, dalam karbon disulfida dan dalam etil asetat.
·      Khasiat              : Sumber vitamin A dan vitamin D
2.    Glyserin
·      Nama lain          : Gliserin
·      Pemerian            : Cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna ; rasa manis, hanya boleh berbau khas lemah (tajam atau tidak enak), higroskopis, netral terhadap lakmus.
·      Kelarutan           : Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol ; tidak larut dalm kloroform, dalam eter, dalam minyak lemak dan dalam minyak menguap.
·      Khasiat              : Pemanis
3.    Gummi Arabicum
·      Nama lain          : Gom arab, Gummi acacieae adalah eksudal yang mengeras di udara seperti gom, yang mengalir secara alami atau dengan penorehan batang dan cabang tanaman Acacia Senegal L. Willdenow (famillia lequminosae) dan spesies lain Acacia yang berasal dari Afrika.
·      Kelarutan           : Larut hampir sempurna dalam 2 bagian bobot air, tetapi sangat lambat, meninggalkan sisa bagian tanaman dalam jumlah yang sangat sedikit ; praktis tidak larut dalam etanol dan dalm eter.
·      Khasiat              : Emulgator
4.    Oleum Cinamoni (FI III, hal 454)
·      Nama lain          : Minyak kayu manis
·      Pemerian            : Cairan, suling segar berwarna kuning, baud an rasa khas.
·      Kelarutan           : Dalam etanol larutkan 1 ml dalam 8 ml etanol (70 %) P, opeilesensi yang terjadi tidak lebih kuat dari opalesensi larutan yang dibuat dengan menambahkan 0,5 ml perak nitrat 0,1 N ke dalam campuran 0,5 ml NaCl 0,2 N dan 50 ml air.
§  Perhitungan Bahan
1.      Oleum lecoris aseli  = 100 / 215 ml x 30 ml = 13,95 ml
2.      Gliserin   = 10 / 215 ml x 30 ml = 1,39 ml
3.      Gom arab  = 30 / 215 x 30 ml = 4,18 g = 4180 mg
§  Alat dan Bahan
Alat
Bahan
Timbangan + anak timbangan
Oleum lecoris aseli
Beaker glass
Gliserin
Sendok tanduk
Gom arab
Gelas ukur
Oleum cinamoni
Botol
Aquades
Mortir + stemper
Tissue
Pipet
Kertas perkamen


Serbet


§  Cara Pembuatan
1.      Disiapkan alat dan bahan
2.      Timbangan disetarakan
3.      Dikalibrasi botol 30 ml
4.      Ditimbang gom arab 4,18 g, masukkan dalam mortir tambahkan air 10,45 ml, aduk sampai terbentuk mucilago.
5.      Diambil oleum lecoris aseli 13,95 ml, masukkan sedikit demi sedikit ke dalam mortir no. (4), aduk sampai terbentuk corpor emulsi.
6.      Di ambil gliserin 1,39 ml dan oleum cinamoni 4 tetes. Dituang dalam bahan no. (3)
7.      Dimasukkan sisa aquades sedikit demi sedikit ke dalam mortir, tambahkan rasa dan pewarna yang diinginkan, aduk add homogeny.
8.      Dimasukkan ke dalam botol coklat, tutup beri etiket putih.
§  Pembahasan
Organoleptis :
Bau                  : Jeruk
Rasa                : Manis
Warna              : Orange
Kelarutan        : Larut
Volume           : 30 ml
Homogenitas   : homogen
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan pada pembuatan sediaan emulsi ini, didapatkan hasil yang baik karena dilihat dari kelarutannya, volume dan tingkat homogenitas sudah sesuai dan hasil sediaanya juga bercampur dengan baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar